Onikolisis

by casualH.R.R.

Onikolisis, sering terjadi pada anak-anak yang membersihkan kuku dengan cara yang salah (biasanya pada anak2 yg ingin kukunya panjang)


sewaktu sedang berpoli dipeskesmas, ada seorang ibu-ibu membawa anak perempuan yang kalo ga salah umurnya sekitar 10 tahun. kemudian sang ibu menunjukkan jari-jari anaknya dimana kukunya tumbuh secara tidak wajar. setelah dicermati ternyata pada kuku tersebut (dijari tengah, telunjuk, dan jempol, pada tangan kanan, dan dijari telunjuk, ma jempol tangan kiri) berwarna putih susu, tampak rapuh dan pada peralihan kuku dengan perlekatan pada kulit terdapat garis berwarna merah, pertumbuhan kuku tersebut juga agak mengarah keluar(kurang menempel pada daging), nyeri dan tidak gatal. setelah cek para cek, ternyata si anak ingin memanjangkan kukunya dan terbiasa membersihkan kotoran di sela2 kuku dengan menggunakan tusuk gigi (ga tau bekas atau baru, pas kutanya sih katanya yang baru), kadang dengan kayu. setelah tau kukunya mulai tumbuh dengan ga normal, sang ibupun mulai memotongnya, namun kemudian kuku yang berwarna putih susu itu tetap tumbuh, dan garis merah pada peralihan kuku sehat dan kuku yang sakit tetap ada. lalu sang ibu seseringmungkin mencuci tangan anaknya dengan sabun dan mengobatinya dengan salep (yang dia lupa namanya) namun tidak kunjung membaik, dan berlangsung kurang lebih sebulanan.
Lalu, setelah melihat dari anamnesa dan pemeriksaan fisik, maka disimpulkan bahwa sang anak menderita Onikolisis sekunder disertai paronikia.
Onikolisis merupakan pemisahan lempeng kuku dari dasar kuku. Bila seluruh kuku terpisah, disebut onikomadesis. Daerah yang terpisah berwama pucat disebabkan karena kehilangan refleksi cahaya dari dasar kuku. Banyak keadaan yang dapat menyebabkan onikolisis, onikolisis merupakan satu dari gejala kuku , yang tersering terjadi. Penyebab onikolisis ini dapat dikelompokkan sebagai berikut : a) Kelainan dennatologik : psoriasis, infeksi jamur, dermatitis b) Penyakit sistemik : gangguan sirkulasi, hipertiroidism, yellow nail syndrome c) Trauma : trauma minor, kasus karena kerja kimiawi : kosmetik kuku, fluorourasil 5% topikal pada ujung jari. Pengobatan : Pasien dianjurkan untuk memotong sebanyak mungkin kuku yang lepas dan memberi sulfasetamid 15% dalam alkohol 50% atau preparat steroid topikal yang mengandung antibiotik dan nistatin pada dasar kuku dua atau tiga kali sehari, atau menggunakan mikonasol hidrokonison him. Perlekatan kembali lambat dan kuku yang terlepas harus dipotong kembali beberapa kali bila perlu. Tujuan pengobatan adalah untuk mencegah infeksi menjadi menetap di bawah kuku yang terlepas, karena ini menyebabkan penebalan dasar kuku dan mencegah perlekatan kembali. Timol 4% dalam khloroform dianjurkan untuk mencegah infeksi dan maserasi lebih lanjut dari dasar kuku, tetapi sering pula diberikan timol 2%, selama pasien dapat mentolerir, dan biasanya efektif. (namun obat2 tsb di puskesmas kebetulan tidak ada).
untuk paronikianya (dalam bahasa jawa disebut cantengen) merupakan keluhan yang sering terjadi dan biasanya disebabkan oleh stafilokokus. Keadaan ini dapat didahului oleh trauma lokal, Lesi yang lebih dalam paling baik diobati dengan antibiotika dulu, tetapi bila tidak cepat membaik, diperlukan insisi dengan anestesi, pada penderita ini, lesi masih ringan dan belum terjadi pembentukan pus.
pada penderita ini akhirnya diberikan pengobatan berupa : edukasi untuk merawat kuku dengan benar, memotong kuku yang rusak dan mati, diberikan salep ketokonazol dan antalgin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: